Jumat, 02 April 2010

TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

Taman Budaya Yogyakarta sejarahnya mulai dibangun di kawasan Bulaksumur Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tanggal 11 Maret 1977, sebagai sebuah kompleks Pusat Pengembangan Kebudayaan (PPK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Peresmian pembangunan kompleks seni budaya ini dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia (RI).

Pada mulanya, TBY–Purna Budaya waktu itu–dibuat sebagai sarana dan prasarana untuk membina, memelihara, dan mengembangkan kebudayaan di DIY dan sekitarnya. Purna Budaya dibangun dengan dua konsep bangunan, yaitu Pundi Wurya dan Langembara. Konsep Pundi Wurya dimaksudkan sebagai pusat kesenian dengan berbagai macam fasilitas seperti panggung kesenian, studio tari, perpustakaan, ruang diskusi, dan administrasi. Sedangkan konsep Langembara dimaksudkan sebagai ruang pameran, ruang workshop, kantin, dan juga penginapan.

Pada tahun 1978, Purna Budaya dikembangkan menjadi unit pelaksana teknis bidang kebudayaan di bawah Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0276/O/1978. Kemudian pada tahun 1991, dilakukan pembaharuan pada organisasi dan tatakerja Purna Budaya berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI No. 0221/O/1991. Selanjutnya, pada tahun 1995, Prof. Dr. Soekanto H. Reksohadiprodjo, M.Com, Rektor UGM (1994—1998), melalui surat No. UGM/422/PL/06/IV kepada Mendikbud RI, meminta gedung Purna Budaya yang berada di kompleks Bulaksumur dijadikan untuk sarana kegiatan kemahasiswaan UGM.

Beberapa tahun kemudian, atas kesepakatan Sri Sultan Hamengku Buwono X, BAPPEDA Provinsi DIY, DPRD Provinsi DIY, Walikota Yogyakarta, dan Dirjen Kebudayaan DIY, gedung seni budaya TBY dibangun lagi di kawasan cagar budaya yang berdampingan dengan Gedung Societet Militair. Akhirnya, berdasarkan Peraturan Daerah No. 7 tahun 2002 dan Keputusan Gubernur DIY No. 161/2002 tertanggal 4 November 2002, TBY berkembang menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY. Dengan berbagai macam visi dan misi, TBY antara lain memfasilitasi kegiatan seni budaya, melaksanakan pengembangan dan pengolahan seni budaya, menjadikan laboratorium dan tempat eksperimentasi seni budaya, dan melakukan fungsi dokumentasi dan informasi seni budaya, melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga dinas, dan memfasilitasi Kegiatan seni budaya.

TBY kemudian memulai babak baru dan meneguhkan diri sebagai “The Window of Yogyakarta”. Gedung seni budaya ini pun semakin meruncingkan visi dan misi dalam dunia seni rupa, dunia media rekam (pemutaran film sepanjang tahun), dunia seni pertunjukan (festival teater, wayang, ketoprak, dalang, dan tari), program-program pendidikan (bimbingan dan pelatihan seni untuk anak dan remaja), dan juga penerbitan (profil seniman dan budayawan, antologi sastra, dan kritik seni rupa).

Kompleks bangunan TBY terdiri dari dua bangunan, yaitu Concert Hall Taman Budaya dan Gedung Societet Militair. Di dalam Concert Hall terdapat ruang utama yang difungsikan sebagai ruang resmi untuk menyelenggarakan pameran seni rupa, seperti seni lukis, seni grafis, seni patung, seni kriya, dan kerajinan. Di samping itu, Concert Hall Taman Budaya juga sering digunakan untuk ruang diskusi sastra, pembacaan puisi, dan ruang pelatihan seni.

Sedangkan Gedung Societet Militair dikhususkan untuk ruang pertunjukan, seperti musik (tradisional dan modern), teater, ketoprak, wayang, tari, dan lain-lain. Sebagai sebuah tempat pertunjukan seni, Gedung Societet Militair memiliki fasilitas yang bagus dan memadai, di antaranya ruang pertunjukan berkapasitas sekitar 500 penonton, panggung pertunjukan, peralatan tata cahaya, dan ruang outdoor untuk publikasi.

Selain itu, TBY juga menghidupkan banyak kegiatan. Hal ini terlihat dari banyaknya jadwal kegiatan yang tersusun rapi untuk dilaksanakan secara profesional. Wisatawan dapat mengunjungi kantor TBY jika ingin mengetahui agenda kegiatan yang terjadwal di papan pengumuman. Kegiatan-kegiatan tersebut banyak yang berkaitan dengan aktivitas pameran seni rupa, pementasan teater, diskusi sastra, pembacaan puisi, dan festival kesenian. Di antara kegiatan yang secara rutin berlangsung di TBY adalah Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang diadakan setiap bulan Juli—Agustus, meliputi acara performing arts, visual arts, workshop seni, dan lain-lain.

Taman Budaya berlokasi di pusat Kota Yogyakarta, tepatnya di Jl. Sriwedani No. 1 DIY, Indonesia 55122. Lokasi Taman Budaya ini berada di sebelah timur Benteng Vredeburg dan berdampingan dengan Shopping Center dan Taman Pintar. Di sebelah utara taman budaya ini terdapat Pasar Beringharjo dan Kawasan Malioboro

Akses menuju Taman Budaya tidak terlalu sulit karena letaknya persis di jantung Kota Yogyakarta. Di samping itu, Taman Budaya ini juga relatif dekat dari Bandara Adisutjipto (sekitar 8 km), dari Terminal Giwangan (sekitar 6 km), dari Stasiun Lempuyangan (sekitar 3 km), dan dari Stasiun Tugu (sekitar 1 km).

Bagi turis domestik atau mancanegara yang berangkat dari Bandara Adisutjipto dapat menggunakan Bus Trans-Jogja (trayek 3A atau 3B) melewati Jalan Malioboro. Setelah sekitar 25 menit dan membayar ongkos sekitar Rp 3.000 (Oktober 2008), wisatawan dapat turun di Halte Bus Trans-Jogja depan Gedung Agung, kemudian jalan kaki menuju TBY sekitar 300 meter. Sedangkan wisatawan yang berangkat dari Terminal Giwangan dapat menggunakan bus kota jalur 2, jalur 4 atau jalur 15 melewati Jalan Malioboro, kemudian turun di depan Pasar Beringharjo atau Taman Pintar dengan membayar ongkos sekitar Rp 2.000 (Oktober 2008), kemudian jalan kaki menuju TBY sekitar 200 meter.

Bagi wisatawan yang berangkat dari Stasiun Lempuyangan dapat menggunakan taksi menuju TBY dengan membayar ongkos kurang lebih sebesar Rp 20.000 (Oktober 2008). Sedangkan wisatawan yang berangkat dari Stasiun Tugu dapat menggunakan becak atau andong menuju TBY dengan membayar ongkos kurang lebih sebesar Rp 10.000 (Oktober 2008).

TBY buka setiap hari Senin hingga Minggu pada pukul 09.00 sampai pukul 21.00 WIB. Fasilitas pendukung yang terdapat di TBY antara lain perpustakaan, mushola, toilet, kafe, dan halaman parkir yang rindang dan luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar